Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Kolom

Ketika Kader Muda Golkar Inginkan Perubahan Kepemimpinan

Minggu, 23 Juni 2019

Ilustrasi. (Foto:Istimewa)

Oleh: Boy Surya Hamta*

DUA tahun lebih berada dalam kondisi tenang, kini Partai Golkar mulai kembali bergeliat. Sejak sepekan terakhir, angin perubahan mulai bertiup menggoyang Partai Beringin. Adalah sejumah kader muda Golkar yang lama meninginkan pembaruan, kini kembali menggeliat.

Mereka mulai mendorong partai untuk segera menggelar Musyawarah Nasional (Munas). Para tokoh muda partai yang sudah mengakar lebih dari 30 tahun ini menginginkan adanya pergantian kepemimpinan dengan menurunkan Airlangga Hartarto dari kursi pimpinan.

Masa jabatan Airlangga sendiri sebagai Ketum Golkar memang akan habis tahun ini. Secara politis, Arilangga tentu sudah mempersiapkan diri untuk kembali maju sebagai ketua partai, termasuk mempersiapkan amunisi untuk bertarung dengan kader lainnya.

Terlepas dari itu semua, munculnya kekecewaan terhadap kepemimpinan Airlangga dianggap sebagai hal yang wajar, bila melihat capaian kinerja Airlangga pada Pemilu Serentak, April 2019 lalu. Sebab pada pemilu kali ini, Airlangga tak cukup mampu mencapai target partai meraih 110 kursi di parlemen. 

Berdasarkan hasil rekapitulasi nasional KPU, Golkar hanya mampu meraih 85 kursi. Meski berhasil meloloskan Golkar ke Senayan, namun jumlah itu dianggap belum cukup. Apalagi, hasil tersebut tak mampu menyamai raihan 91 kursi pada Pemilu 2014 lalu saat masih dipimpin Aburizal Bakhri.

Sejauh ini, satu nama sudah dimunculkan ke permukaan dan terus digaungkan kader muda yang tergabung dalam kelompok Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG) untuk menggantikan posisi Airlangga. Dia adalah Bambang Soesatyo. 

Nama ini kader senior Golkar yang kini menjadi Ketua DPR RI menggantikan Setya Novanto tersebut menjadi pilihan BPPG. Inisiator BPPG, Abdul Aziz merasa, sosok Bambang Soesatyo dinilai layak menggantikan Airlangga sebagai ketua umum. 

Alasannya, sosok akrab disapa Bamsoet tersebut merupakan kader Golkar yang cukup peduli dengan kader muda. Bamsoet sendiri mengawali karirnya sebagai pemimpin redaksi harian umum Suara Karya. Salah satu corong media Partai Golkar tahun 2004.

Bamsoet tercatat aktif di sejumlah organisasi sayap Partai Golkar, seperti Kosgoro, AMPI dan Pemuda Pancasila. Sehinggga, menurut Aziz, perhatian Bamsoet terhadap anak muda diyakini sangat tinggi dan sosok inilah yang dibutuhkan partai saat ini sesuai dengan perkembangan zaman. 

Mungkinkah ada konvensi
Sesungguhnya, selain nama Bamsoet, Golkar sendiri memiliki banyak kader andal yang berpotensi besar menggantikan Airlangga. Hanya saja, potensi tersebut terhalang ruang dan waktu dan sangat jarang muncul ke permukaan, akibat minimnya kesempatan tampil di layar kaca. 

Saat ini, bila saja Golkar menginginkan kepemimpinan yang kuat dan mengakar ke bawah, Konvensi merupakan salah satu solusinya. Dalam sejarahnya, Golkar sudah pernah membuat konvensi dalam pencarian sosok capres dan hasilnya cukup baik. Sekarang, hal serupa juga bisa dilakukan untuk menentukan calon ketua umum partai. 

Tujuannya jelas, membuka ruang bagi seluruh kader untuk bisa menjadi pemimpin yang mengakar sampai ke tingkat ranting. Selain itu, publik akan mengetahui dengan jelas sosok yang akan memimpin Partai Golkar dengan menyimak rekam jejak dan agenda politik partai yang disampaikan.

Setidaknya, dengan konvensi ada dua keuntungan yang bisa diperoleh partai. Pertama, menemukan kader andal dengan visi dan misi yang jelas untuk membangun Golkar dan mengembalikan kejayaannya. Kedua, tidak mustahil bagi Golkar untuk menemukan kadernya yang dianggap siap sebagai capres atau cawapres pada pemilu 2024 mendatang. 

Pertanyaannya, mungkinkah konvensi bisa menjadi salah satu solusi untuk menemukan pemimpin baru di Golkar?

Tentu saja, bila Partai Golkar ingin lebih baik harus membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi seluruh kader terbaiknya untuk ikut berkompetisi. Salah satunya melalui jalur konvensi. Disinilah akan muncul calon dengan rekam jejak baik, kapabel, berpikir visioner dan memiliki jaringan luas. Sebab, penting bagi Golkar menemukan calon ketum seorang kader militan dan siap berjuang membesarkan partai. (*)




Penulis adalah Plt. Pemimpin Redaksi FokusRiau.Com 


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus