Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Metro Pekanbaru

Kisah Pilot Hercules, Terbang di Ketinggian 10.000 Kaki Demi Membuat Hujan di Bumi Riau

Rabu, 25 September 2019

Personel Satgas Karhutla Riau memuat garam dan kapur. (Foto:Liputan6.com)

PEKANBARU-Satgas Karhutla terus memaksimalkan potensi awan yang terus tumbuh di langit Riau. Penyemaian garam terus menerus dilakukan demi mempercepat hujan turun agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) padam dan tidak meningkatkan kabut asap.

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) setiap hari dilakukan menggunakan sejumlah pesawat dari Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru. Sebanyak 4 ton garam bercampur kapur dilepas ke awan setiap harinya.

Salah satu pesawat yang digunakan untuk program tersebut adalah Hercules. Pesawat militer milik TNI AU ini harus terbang di ketinggian 10.000 hingga 14.000 kaki demi menemukan awan potensi hujan yang posisinya selalu berpindah-pindah.

Pilot pesawat Hercules Kapten Pnb Riki Sihaloho menceritakan, pencarian awan potensi hujan selalu dikoordinasikan dengan BMKG dan BPPT. Ini dilakukan agar penerbangan lebih efisien dan penyemaian lebih terukur.

"Jadi mencari awan potensi hujan itu tidak mudah karena berpindah-pindah. Tidak setiap tempat dan waktu adanya," ucap Riki, Rabu (25/9/2019).

Untuk Hercules, Riki menyebut punya target dua kali sortie atau terbang dalam sehari. Garam dicampur kapur dimasukkan ke dalam wadah lalu ditabur melalui alat kendali di pesawat ketika awan terlihat.

Menurut Riki, garam disemai bertujuan mengikat air di awan sehingga tidak terpecah dan kemudian menimbulkan hujan. Sementara kapur berfungsi menghilangkan menghilangkan asap di udara. "Dengan hilangnya asap, maka akan menimbulkan radiasi sehingga cepat menimbulkan pertumbuhan awan hujan," terang Riki.

Tidak hanya di langit Riau, Hercules yang diterbangkan Riki juga terbang ke arah Jambi bahkan sampai ke Palembang. Pasalnya daerah tersebut dominan ada titik api yang berpotensi menimbulkan kabut asap. "Begitu lihat awan, pesawat mendekat. Lalu di sekitar awan ditaburi garam bercampur kapur tadi lewat console (kendali) yang dibuka dari belakang," ulas Riki.

124 Ton Garam Habis
Operasi TMC sudah dilakukan sepanjang tahun ini. Intensitasnya lalu meningkat tak kala Riau memasuki musim kemarau panjang pada tiga bulan lalu. Kemudian pesawat ditambah lagi ketika Riau sudah diselimuti kabut asap.

Sejak operasi dimulai hingga saat ini, sudah ada 124 ton garam bercampur kapur ditebar di langit Riau secara khusus. Selain Hercules ada juga pesawat Cassa dan pesawat lainnya dilibatkan secara bergantian.

Menurut Wakil Komandan Satgas Karhutla Riau Edwar Sanger, TMC telah berhasil menurunkan hujan di sebagian wilayah Riau. Pada Senin awal pekan ini, hujan terjadi dan mulai mengatasi kabut asap serta kebakaran lahan. 

Menurutnya, operasi TMC akan terus dilakukan di Riau melalui sinergitas antara BMKG dan BPPT serta Lanud Roesmin Nurjadin sebagai lokasi pesawat lepas landas. "Saat ini kita masih punya stok garam sebanyak 18,4 ton," sebut Kepala Pelaksana BPBD Riau ini.

Selain hujan buatan, penanggulangan karhutla juga masih terus mengandalkan water boombing atau pengeboman air. Ada tujuh helikopter milik BNPB dioperasikan.

Prakirawan BMKG stasiun di Pekanbaru Agus Ahmad Widodo menjelaskan, secara meteorologi memang ada potensi hujan di provinsi Riau. Hal itu berdasarkan kelembaban atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan.

Menurut Agus, potensi hujan semakin besar dengan adanya operasi TMC yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara serta BPPT. "Potensi hujan tersebut dapat dimaksimalkan," kata Edwar. (*)



 
 
Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Liputan6.com


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler
      Selasa, 12 November 2019 - 07:31:56 WIB
      Senin, 11 November 2019 - 17:13:35 WIB
      Senin, 11 November 2019 - 17:12:42 WIB
      Senin, 11 November 2019 - 14:13:59 WIB
      Minggu, 10 November 2019 - 14:26:13 WIB


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus