Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Metro Pekanbaru

Lima Tahun Terakhir, Pencabulan Mendominasi Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Pekanbaru

Kamis, 25 Juli 2019


PEKANBARU-Ratusan kasus kekerasan terhadap anak di Kota Pekanbaru, Riau muncul dalam lima tahun terakhir. Tercatat ada 292 kasus kekerasan terhadap anak yang terdata. Dari jumlah itu, kasus pencabulan terhadap anak mendominasi. 

Ada 104 kasus pencabulan terhadap anak yang tercatat selama lima tahun terakhir. Kasus ini terdata terjadi dari tahun 2014 hingga tahun 2018. Data dari Unit Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Pekanbaru, ada puluhan kasus kekerasan terhadap anak terjadi setiap tahunnya.

Tahun 2014, tercatat ada 51 kasus yang terjadi. Lalu angka ini meningkat drastis pada tahun 2015 menjadi 73 kasus. Tahun berikutnya pada tahun 2016 turun menjadi 39 kasus. Kemudian pada tahun 2017, kasus kekerasan anak kembali meningkat jadi 59 kasus, dan pada tahun 2018 meningkat lagi menjadi 70 kasus.

"Kebanyakan adalah kasus pencabulan terhadap anak di Pekanbaru," jelas Konselor Unit Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA) Kota Pekanbaru, Herlia Santi, Kamis (25/7/2019).

Dikatakan, pelaku pencabulan terhadap anak di Kota Pekanbaru didominasi oleh orang dekat korban. Ia merinci, dari deretan para pelaku itu di antaranya ada ayah kandung korban yang tega mencabuli anaknya sendiri.

Pelaku lainnya adalah orang yang juga dekat dan seharusnya melindungi korban. Mereka di antaranya ayah tiri korban, sepupu korban, tetangga korban, dan teman bermainnya sendiri.

Herlia mengimbau para orangtua menjaga anak-anak dari para predator anak. Pasalnya orang terdekat di keluarga sekalipun, berpotensi menjadi pelaku kekerasan terhadap anak. "Jadi para pelaku ini kebanyakan orang dekat korban. Makanya patut diwaspadai, anak-anak mesti berada dalam lindungan keluarga," urainya.

Kasus lain yang juga banyak dialami anak di Pekanbaru adalah tidak mendapatkan haknya, lalu anak berhadapan dengan hukum, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), kasus kekerasan terhadap anak bukan di lingkup rumah, hingga kasus penelantaran anak.

Herlia tidak menampik bahwa kasus kekerasan terhadap anak masih terjadi di Kota Pekanbaru. Pada 2019 ini saja, tercatat sudah ada 55 kasus yang tercatat sejak Januari hingga Juni 2019 lalu.

Para korban kekerasan anak di Kota Pekanbaru, dalam prosesnya akan didampingi oleh konselor. Sedangkan untuk pendampingan hukum akan dilakukan oleh advokat.

"Sedangkan untuk pemulihan trauma akan dilakukan oleh psikolog dan rehabilitasi sosial. Upaya pemulihan ini juga bekerjasama dengan Dinas Sosial," paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), Mahyuddin, menyebut bahwa kasus-kasus yang terjadi tersebut sudah ditangani dengan baik. "Berkali-kali kami sampaikan, kita tidak bisa menjamin bahwa tidak ada kekerasan terhadap anak," paparnya.

Namun demikian, ia memastikan negara akan tetap hadir untuk menangani kasus yang terjadi menimpa para anak tersebut. (*)

Kekerasan Anak di Pekanbaru
2014 : 51 kasus
2015 : 73 kasus
2016 : 39 kasus
2017 : 59 kasus
2018 : 70 kasus
2019 : 55 kasus (data sampai Juni 2019)
 
Sumber: Unit LPPA Kota Pekanbaru




Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Tribunpekanbaru


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus