Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Kolom

Menelisik Dampak Perluasan Lahan Sawit Bagi Petani di Riau

Rabu, 20 November 2019

Ilustrasi. (Foto:Istimewa)

Oleh : Fajar Rakha Pratama* 

Sawit merupakan komoditas perkebunan cukup penting bagi perekonomian Indonesia, sebagai negara eksportir sawit terbesar di dunia. Berdasarkan data BPS tahun 2017, volume ekspor minyak sawit mencapai 29.071.000 ton dengan nilai ekspor 20.724 juta US Dollar. 

Dengan peluang pasar yang besar dan produksi yang berkembang setiap tahunnya, menjadikan sawit sebagai komoditas menguntungkan dan penghasil devisa negara. 

Provinsi Riau sendiri, merupakan salah satu daerah penghasil sawit terbesar di Indonesia. Tahun 2017, Riau menghasilkan 7,72 juta ton kelapa sawit, yakni 22,4 persen dari produksi total di Indonesia. 

Sejalan dengan produksinya yang besar, luas perkebunan sawit di Provinsi Riau merupakan yang terluas di Indonesia, dengan lahan perkebunan sawit mencapai 2,26 juta hektare. Produksi sawit di Riau tersebar di semua kabupaten, kecuali di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Sementara luas lahan dan produksi sawit terbesar berada di Kabupaten Rokan Hulu dan Kampar. Setiap tahun, produksi sawit terus meningkat seiring dengan meningkatnya lahan sawit. 

Dari tahun 2015 hingga 2018, luas lahan perkebunan sawit di Riau mengalami peningkatan 53.000 hektare. Lalu apakah peningkatan areal kelapa sawit setiap tahunnya berdampak positif bagi petani perkebunan sawit di Riau?

Diketahui, petani sawit Riau umumnya menjual sawit dalam bentuk TBS (tandan buah segar), atau masih dalam keadaan buah menempel di tandan sawit. TBS yang dipanen kemudian diserahkan kepada toke (pengepul) yang membeli TBS dengan harga menyesuaikan harga di pabrik dan biaya pengangkutan. 

Harga di pabrik sendiri umunya melihat perkembangan harga CPO (crude palm oil) dunia. Harga kelapa sawit masih sensitif terhadap hukum permintaan dan penawaran. Sesuai dengan teori penawaran dimana semakin banyak barang yang tersedia maka akan menurunkan harga barang. Hal ini terjadi pada harga sawit di Riau yang masih rendah jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Dengan bertambahnya luas lahan perkebunan sawit dan produksi sawit yang terus meningkat, tentu tidak selamanya menguntungkan bagi petani sawit. Buktinya, perkebunan rakyat tahun 2017 hanya 36,9 persen dari total luas lahan di Indonesia. 

Kebakaran hutan dan lahan di Riau yang mungkin saja kemudian akan berubah menjadi perkebunan sawit, akan meningkatkan produksi sawit untuk beberapa tahu ke depan. Untuk itu, demi meningkatkan kesejahteraan petani sawit, pemerintah harus berfokus kepada upaya meningkatkan harga sawit, baik melalui peraturan pemerintah atau mendirikan badan usaha yang bisa menampung hasil produksi sawit petani. 

CPO sendiri dapat dijadikan menjadi berbagai macam produk jadi yang dapat menambah nilai jual kelapa sawit seperti minyak goreng, margarin, sabun mandi dan lain sebagainya. (*) 

* Penulis adalah mahasiswa Politeknik Statistika STIS Angkatan 2019/2020


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus