Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Metro Pekanbaru

Penderita Iritasi Mata Akibat Terpapar Asap Karhutla di Pekanbaru Riau Bertambah

Selasa, 27 Agustus 2019

Kabut asap menyelimuti Pekanbaru. (Foto:Istimewa)

PEKANBARU-Penderita iritasi mata akibat terpapar pertikel asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Pekanbaru, Riau terus bertambah.

"Saya kemarin merasa sakit kepala, mata terasa gatal. Setelag saya kucek, malah membengkak bahkan untuk berkedip saja susah. Berdasarkan diagnosa dokter spesialis, mata saya mengalami iritasi akibat asap," kata Imel Aurora (38), Pegawai salah satu BUMN di Pekanbaru, Senin kemarin.

Selain dirinya, kata Imel, pasien dokter yang mengalami penyakit sama juga banyak. Setelah diperiksa dokter di RS Awal Bros, Imel mengaku diberi obat minum dan obat tetes. Selain itu, dirinya dianjurkan rajin mengompres mata dengan air hangat dan tetap menjaga stamina.

"Kabut asap kini mengkhawtirkan. Saya disarankan dokter mengurangi aktivitas di luar rumah, tetap menjaga stamina dan banyak minuam air putih," ulasnya.

Setelah obat habis diminum sampai lima hari, jika masih merasakan sakit dokter menganjurkan Imel kontrol ulang. Imel dan warga lainnya di Pekanbaru meminta Gubernur Riau Syamsuar segera bertindak tegas terhadap pelaku pembakar lahan agar korban asap tidak bertambah.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Diskes Kota Pekanbaru Maisel Fidayesi mengungkapkan, sejumlah warga Pekanbaru kini diserang berbagai penyakit akibat terpapar asap karhutla.

"Selain ISPA, warga Pekanbaru mengalami asma, iritasi mata, kulit dan lainnya. Namun demikian, ISPA masih dominan menyerang warga dibanding penyakit lainnya pasca ditetapkannya Riau siaga darurat asap, beberapa waktu lalu," ulasnya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan hotspot melalui satelit Terra-Aqua Modis, dari 19-25 Agustus 2019 terdapat 804 titik api dengan confidance diatas 70 persen ada 402 titik. Dari grafik terlihat jelas hotspot terus meningkat, puncaknya pada 23 Agustus 2019 hotspot mencapai 300 titik.

Staf Advokasi dan Kampanye Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) Aldo menyebut, selain hotspot, Jikalahari memantau Indek Standar Pencemaran Udara di Kota Pekanbaru, hasilnya sejak 19-25 Agustus 2019, di stasiun KLHK-PKU Tenayan Raya ISPU PM 03 dengan nilai 222. Artinya Sangat Tidak sehat. (*)



 
 
Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Antara


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus